Letak geografis Umpungeng sebagai sebuah perkampungan tua yang berpenduduk tidak lebih dari 100 KK dan hanya berjarak 130 km atau 3 jam perjalanan kendaraan dari bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar sungguh sangat strategis. Suasana alam pegunungan yang indah, udara yang sejuk, aliran sungai-sungainya yang jernih, aneka ragam tumbuhan dan hewan endemic yang sangat menghibur hati, tetesan air nira yang segar, keramah tamahan penduduk seolah menjadi saksi atas kesan yang terpancar dari ekspresi kegembiraan setiap pengunjung yang telah menjejakinya.
Aneka kekayaan alam tersebut bisa jadi kita dengan mudah dapat menjumpai potensi yang sama di berbagai daerah di Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alamnya. Ini sebuah karunia dari Allah yang patut kita syukuri. Namun ada satu keistimewaan yang dimiliki Umpungeng yang tidak dimiliki oleh desa manapun di Indonesia. Sebuah situs megalitikum yang di dalamnya terdapat symbol titik. Titik yang tidak sekedar mengakhiri atau memulai kata dalam tulisan, titik yang tidak sekedar kata penegasan atas keputusan-keputusan yang kita ambil dan sederet makna lain yang dikandung oleh sebuah titik. Lebih dari itu semua, symbol titik (posi/pusar) di Umpungeng dapat dijadikan sebagai titik keseimbangan / symbol pemersatu (Sila ke 3 Pancasila) sebuah Bangsa .Maka izinkan kami menyampaikan alasan kenapa Umpungeng layak menjadi “Titik Tengah INDONESIA”:
1. Nama Umpungeng
Sederet nama nama yang disematkan pada kampung yang sempat menjadi markas para gerilyawan tempo dulu ini yakni Tanah Ri Gella, Tanah Maradeka, Tanah Ancajingeng, Tanah Boccoe, Toddang Anging, Lalabata dan kini dikenal Umpungeng. Umpungeng berasal dari bahasa Bugis yang berakar pada kata sumpung =sambung. Sisumpungeng berarti sehubungan atau nyambung atau dalam istila agama dikenal dengan istilah silaturrahim yang bermakna pertemuan kekerabatan. Sisumpungeng bermakna pertemuan atau bertemunya individu atau kelompok dalam satu waktu dan tempat yang sama.
2. Situs Megalitikum
Jajaran batu membentuk lingkarang di atas sebuah bukit yang diapit oleh 2 aliran sungai merupakan bukti otentik telah hadirnya satu peradaban manusia tempo dulu yang terjaga hingga kini. Lingkaran Batu yang kini di kenal dengan Garugae telah tercatat sebagai salah satu situs megalitikum di Sulawesi Selatang yang tetap terjaga keberadaanya. Lingkarang batu yang berdiameter 25 m ini berjumlah 39 batu yang Nampak belum tersentuh peralatan-peralatan besi atau semacamnya. Ditengah-tengah lingkarang terdapat batu yang merupakan tanda pertengahan yang oleh warga setempat secara turun temurun dinamai Posi Tanah (Pusar Bumi).
3. Letak Geografis
Kampung Umpugeng berada diatas deretan tiga bukit yang menyerupai tubuh manusia (wuju) yang terbujur membentang dari timur ke barat . Bukit tengah merupakan lokasi perkampungan utama Umpungeng dimana terdapat bangunan situs megalit Garugae. Disisi kiri kanan Kampung terdapat aliran sungai yang diapit oleh dua gunung dengan ketinggian 1500 dpl yakni Gunung Laposo dan Gunung nene Conang. Secara Administratif Wilayah Umpungeng berada dibawah pemerintahan Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Prov.Sulawesi Selatan. Secara geografis Desa Umpungeng berada ditengah pusaran sejumlah wilayah pemerintahan daerah di Sulawesi Selatan selain Kota Kabupaten Soppeng sendiri, sebelah barat terdapat Kab.Barru dan Kab.Pangkep, sebelah Utara terdapat kabupaten Bone dan Kab.Maros, Sebelah Selatan terdapat Kodya Pare-Pare dan Kab.Sidrap, sebelah Timur terdapat Kab. Wajo dan Kab. Luwu. Secara Nasional Makassar selaku Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan sendiri merupakan City Center of Indonesia.
4. Sejarah
Sebuah cerita rakyat yang didalamnya menceritakan pertemuan / Silaturrahiim (Sisumpung) nya dua keturunan rumpung kerajaan yakni Baso Paranrengi yang merupakan Putra Petta Bulu matanre dengan I Besse Timo yang merupakan Putri Arung Tete merupakan salah satu referensi yang dapat menggambarkan peran dan fungsi Kampung Umpungeng yang sangat sentral dalam perjalanan sejarah kehidupan satu komunitas bangsa Bugis pada masanya.
Cerita lain yang beredar di tengah masyarakat sekitar kawasan Umpungeng bahwa pada perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, para penghulu masyarakat dari berbagai penjuru di sekitar kawasan datang melaksanakan Sholat ied di Umpungeng di pagi hari baru kemudian kembali ke kampung halaman masing-masing untuk memimpin sholat Ied.
Menurut penuturan para orang tua, setiap batu di lingkaran Garugae merupakan tempat duduk para perwakilan raja / delegasi dalam pertemuan atau pelantikan (Allantikken).
Sebagai tanah Maradeka (Merdeka) Umpungeng berperan penting dalam melindungi dan menyelamatkan setiap orang yang meminta perlindungan atau membutuhkannya. Terdapat sejumlah tokoh penting yang pernah meminta perlindungan di wilayah ini diantaranya Arung Palakka dari Bone saat terjadinya pengejaran yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa.
5. Budaya
Berkumpul / Tudang Sipulung, Manre Sipulung, Do’a sipulung , mabbaca doang sipulung dan berbagai tradisi yang kini menjadi budaya masyarakat baik yang tinggal di Umpungeng atau pun masyarakat yang masih memiliki ikatan kultur yang datang dari berbagai wilayah dari luar Umpungeng hingga kini masih lestari. Ini merupakan sebuah potret betapa Umpungeng menjadi sebuah magnet yang dapat menarik setiap orang yang hendak menyampaikan harapan atau ingin mengungkapkan rasa syukur atas setiap pencapaian prestasi. Kehangatan dan keakraban silaturrahim antar warga dengan tamu yang terjalin pada setiap moment acara (mabbaca doang) Nampak dinamis dan terasa begitu hangatnya. Ini adalah reflexi budaya pertemuan (sisumpungeng) yang sangat mengesankan.
6. Adat Sipulung
Pesta adat yang digelar atas dasar kesepakatan antar sepuh adat diselenggarakan setiap tahun atau setiap lima tahun. Acara ini terbuka bagi masyarakat umum, sehingga event tahunan ini menjadi pesta budaya sekaligus ajang pertemuan (siruntu’/sisumpung) atau silaturrahiim diantara anak keturunan bugis dari berbagai wilayah. Kegiatan tahunan ini pula menjadi momentum untuk mempererat hubungan antar sesama warga melalui kerja gotong royong menyelenggarakan acara.
7. Informasi Teknology
Sejak dulu orang-orang tua sudah bercerita tentang Posi Tanah (Pusar Tanah), namun karena keterbatasan wawasan dan ketidak perdulian selaku generasi penerus, cerita tersebut terabaikan begitu saja dan tidak mendapat tanggapan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kehadiran era globalisasi dan technology informasi telah membawa perubahan begitu cepat. Cerita orang tua tentang Posi Tanae (Pusar Tanah) kemudian dikonfirmasi melalui aplikaasi technology teranyar bernama Google earth. Dan hasilnya cukup mengesankan, ternyata cerita tentang Posi na Tanae sangat relevan dengan posisi keberadaanya di tengah wilayah Republik Indonesia. Hal ini dapat di lihat dengan jelas di layar monitor, saat peta Indonesia sudah tampil penuh di sisi kanan dan kiri monitor computer kita, Nama INDONESIA akan muncul di bagian tengah peta. Pada huruf I pertama dari kata INDONESIA akan muncul tanda lokasi Umpungeng. Pertanyaan akan bermunculan, Bukankah jarak huruf I pada peta jika di sum out akan berjarak ratusan kilometer? Jawabnya Ya Betul. Apakah setiap wilayah yang terkena huruf I berhak mengklaim? Ya setiap wilayah berhak mengklaim. Yang terpenting saat ini adalah siapa yang lebih dulu mengklaim, siapa yang lebih otentik dari berbagai sudut pandang. Jika ada wilayah yang lebih berhak mengklaim, hal itu tidaklah masalah buat kami masyarakat Umpungeng. Insya Allah, diakui atau tidak, bagi kami Umpungeng adalah kampong halaman, tanah ancajingeng. Tidak ada yang berhak membatalkannya.






0 komentar:
Posting Komentar