1. Simbol Pemersatu
Sebuah Dasar Negara yang oleh bangsa INDONESIA sudah sepakati bersama yaitu PANCASILA. Terdiri dari 5 sila, setiap sila mengandung falsafah hidup dan symbol tata nilai sebuah bangsa yang berdaulat adil dan makmur. Jelas tujuan dari kelahiran Dasar Negara ini tiada lain kecuali sebagai alat untuk mewujudkan keadilan dan mencapai titik keseimbangan hidup sebagai bangsa yang berpri kemanusiaan dan berkeadilan. Paling tidak inilah pesan yang kami fahami dari setiap sila dalam PANCASILA:
Sila 1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
Objeknya : Tuhan Yang Maha Esa.
Perintahnya : Bahwa setiap yang mengaku warga Negara Indonesia wajib mengakui adanya Tuhan yang berarti harus memilih Agama sesuai yang diakui oleh Negara, Islam, Kristen, Hindu, Budha, & Konghucu.
Tempat : Untuk mengasah inplementasi nilai-nilai ajaran-Nya (mencapai titik keseimbangan spiritual) harus dimulai dari Rumah Ibadah masing-masing.
Sila 2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Objeknya : Adil Beradab
Perintahnya : Setiap yang mengaku sebagai bangsa Indonesia harus berperilaku Adil dan beradab. Tidak di benarkan visiknya berkewarganegaraan Indonesia namun jiwa dan orientasi hidupnya menjadi bangsa lain. Jadilah sebagai bangsa yang utuh, jadi diri sendiri.
Tempat : Untuk mencapai keseimbangan hidup secara individu berada pada Jiwa masing-masing.
Sila 3. Persatuan Indonesia
Objeknya : Bersatu
Perintahnya : Setiap orang yang mengaku Bangsa Indonesia harus bersatu, setiap pulau yang masuk wilayah Pemerintahan Indonesia harus di Persatukan.
Tempat : Dimanakah tempat ideal untuk mengumandangkan Sila (ke 3) Persatuan Indonesia? Sudah 71 tahun silam ini dikumandangkan namun masih sering sahaja kita mendengarka suara-suara ketidak adilah dan ketidak puasan dari berbagai daerah yang tidak sedikit bermuara pada issu disintegrasi. Tidakkah kita perlu sepakat satu tempat yang ideal untuk meneriakkan sila ke 3 Pancasila yang dapat mencerminkan keadilan dan keseimbangan sebuah bangsa? Setiap suku memiliki kadar ego masing-masing yang sewaktu waktu dapat merontokkan rasa nasionalisme. Setiap suku akan cenderun merasa lebih baik dan lebih berhak untuk memimpin di negeri ini. Untuk itu mari kita sepakati satu aturan main yang Insya Allah dapat memenuhi rasa keadilan bagi kita semua. Kita cari Titik Tengah Wilayah Indonesia. Disanalah kita kumandangkan sila ketiga PANCASILA dengan lantang “Persatuan Indonesia!”.
Sila 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Objeknya : Rakyat
Perintahnya : Rakyat Indonesia harus dipimpin dengan hikmad dan bijaksana melalui perwakilan-perwakilan yang telah dipilih secara mufakat, tiada lain kecuali membangun titik keselarasan dan keseimbangan antara hak dan kewajiban sebagai warga Negara.
Tempatnya : Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tempat merumuskan segala aturan demi mencapai titik keseimbangan yang ideal adil dan sejahtera.
Sila 5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Objeknya : Keadilan
Perintahnya : Setiap Bangsa Indonesia harus bertindak secara adil dalam lingkup pergaulan social di berbagai level hingga level tertinggi pengambil keputusan Negeri ini. Tanpa partisipasi semua lapisan masyarakat dalam mengimlementasikan nilai-nilai keadilan, sehebat apa pun pemimpin, tidak akan memampu mewujudkan rasa keadilan social. Sebaliknya jika karakter adil sudah dimiliki oleh mayoritas penduduk bangsa, maka pemimpin dengan mudah akan mewujudkan keadilan.
Tempatnya : Pengadila ( tempat bersemainya berbagai persoalan social untuk sebuah keseimbangan hidup yang berkeadilan.
2. Titik keseimbangan
Tidak dipungkiri bahwa pembangunan yang digalakkan oleh pemerintah dari waktu ke waktu dengan menghadirkan dukungan sarana dan prasarana dalam rangka mewujudkan keadilan & kesejahteraan. Keadilan merupakan kebutuhan rasa dan Kesejahtraan merupakan kebutuhan rasio keduanya harus terpenuhi jika hidup ingin tenang damai / penuh keseimbangan. Penulis pernah berkunjung ke Dinas Pariwisata Provinsi dan mengajukan pertayaan kepada salah seorang pegawai dengan nada sedikit berkelakar. “ apa pentingnya titik?” Jawabnya: tergantung dari masing-masing profesi. Jika seorang penulis maka arti sebuah titik adalah tempat berhenti atau memulainya kalimat, jika seorang montir maka titik itu berarti keseimbangan. Apa jadinya dika sebuah roda kendaraan memiliki titik / lubang keseimbangan di pinggir. Dapat dipastikan perputaran roda tersebut pasti tidak stabil alias ujlag ujlug. Lantas bagaimana dengan roda pemerintahan sebuah Negara? Jangan-jangan gonjang-ganjing pemerintahan kita selama ini akibat putaran roda pemerintahan yang tidak stabil? Indonesia butuh titik keseimbangan. Yakinlah setiap sesuatu ada titik keseimbangannya, hanya butuh kearifan untuk menimbangnya.
3. Pusat Transformasi generasi
Dalam anatomi tubuh manusia terdapat bagian yang bernama Pusar, dari tali pusar lah bayi yang ada dalam kandungan manusia dapat tumbuh setelah ruh ditiupkan oleh Allah SWT. Begitu pentingnya peran pusar ini sehingga dipastikan mustahil seorang bayi akan lahir dengan selamat tanpa pusar. Selain menjadi jalur logistic bagi kebutuhan makan sang jabang bayi, tali pusar juga berfungsi menjadi jalur transformasi gen dan berbagai karakter orang tua pada generasi barunya. Batu yang orang Umpungeng menyebutnya sebagai Posi Tanah (pusar Tanah) pada bangunan situs megalit Garugae di Umpungeng dapat dimaknai sebagai symbol tali pusar bagi keberlangsungan suatu generasi bangsa. Lahir dan matinya suatu generasi penerus bangsa tergantung pada kesehatan ibunda pertiwi mengandung, dan sesehat apa pun Ibunda Pertiwi mengandung kalau tali Sumpung lolo ( tali pusar) tidak ada maka tidak akan lahir generasi berikutnya. Indonesia butuh Pusar (posi) untuk mentransformasi nilai-nilai luhur bangsa dari generasi ke generasi.
4. Pusat edukasi kebangsaan
Alam merupaka sumber inspirasi sekaligus edukasi bagi keberlangsungan hidup manusia yang lebih baik. Namun untuk belajar menjadi sebuah bangsa yang besar dan bermartabat, tidak ada jalan lain kecuali dengan belajar dari sejarah bangsa-bangsa besar terdahulu. Di Nusantara tercinta ini terdapat banyak peninggalan kampung-kampung kuno bersejarah yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi generasi baru untuk terwujudnya sebuah bangsa yang berpengaruh sebagaimana cita-cita founding father Negara kita. Umpungeng merupakan perkampungan bugis kuno yang didalamnya terdapat symbol-symbol kehidupan peninggalan orang-orang yang pernah mendiami kawasan ini. Minimal anak-anak generasi mudah masa kini dapat membandingkan perjuangan kehidupan orang-orang pegunungan dengan mereka yang tinggal di perkotaan. Indonesia butuh tempat yang mengandung nilai-nilai prinsip dasar Negara & filosofi Negara yang dibutuhkan bangsa kita.
5. Pusat pertemuan antar suku-suku senusantara
Bangunan situs Megalitikum Garugae merupakan tempat diselenggarakannya konfrensi pertemuan antar suku atau antar kerajaan pada masanya. Hal ini tergambar dari bentuk asli bangunan yang membentuk lingkaran yang di tengahnya terdapat titik penanda pertengahan yang merupakan symbol musyawarah dan mufakat. Namun apapun cerita masa lalu dibalik ini, tempat ini layak dijadikan tempat pertemuan antar suku seNusantara untuk mengokohkan kembali tekat dan semangat sumpah pemudah kita. Lepas dari kebutuhan tersebut, sebagai bangsa yang besar yang didiami banyak suku dan ras, banyak serpihan kerajaan-kerajaan besar nusantara yang mendesak untuk dilakukan rekonsiliasi. Untuk itu kita butuh tempat yang ideal dan steril dari berbagai pengaruh untuk aktualisasi diri sebagai bangsa INDONESIA. Kelak setiap orang Indonesia akan merasa sah ke-Indonesia anya setelah berkujung ke Jantung hati Indonesia.
6. Pengikat
Persatuan akan terwujud dengan komitmen setiap individu untuk bersatu, berbagai hal dapat menjadi alat pemersatu, ada yang bersatu karena kesamaan nasib, karena kesamaan profesi, kesamaan hobby, kesamaan suku, kesamaa tujuan dll, Hal ini pasti terjadi di tengaah kita. Untuk itu kita harus memilih satu tempat / symbol untuk mendorong setiap orang yang berdiri di tempat tersebut agar tergugah hati dan kesadarannya untuk bangkit membangun komitmen pada dirinya untuk bersatu pada semua keadaan kapan dan dimanapun. Komitmen inilah yang menjadi alat ikatan yang kuat sebagai sebuah Bangsa. Disini akad kebangsaan kita di kokohkan.
7. Terminal budaya
Indonesia memiliki aneka ragam budaya tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Meski sudah dibangun TMII di Jakarta, namun kita perlu membuat etalase kebudayaan yang lebih alami dan lebih comprehensip, dengan memanfaatkan alam sebagai media utama bukan di gedung-gedung mewah. Minimal untuk konteks Regional Sulawesi Selatan dapat menghadirkan informasi aneka kebudayaan bugis, agar orang-orang bugis semakin perduli dan bangga dengan apa yang dimilikinya. Maksimal nya festival budaya Nusantara dapat di helat di sini.






0 komentar:
Posting Komentar